The 11th Hour: The Earth will get by on its own

11th Hour Poster Movie
Pemanasan global memang menjadi isu lingkungan yang paling hangat saat ini. Setelah Al Gore membuat film dokumenter yang mengagumkan, An Inconvenient Truth, kini giliran Leonardo Di Caprio yang memproduksi tema serupa, The 11th Hour. Hanya saja, pada film ini, kita dipaparkan kenyataan yang lumayan menakutkan, dan bagaimana sifat dasar manusialah yang merusak bumi ini.
Bumi akan bertahan…? Dalam film dokumenter ini, Stephen Hawking mengatakan pemanasan global terjadi akibat penggunaan gas fosil yang berlebihan dalam rentang waktu yang sangat singkat. Akibatnya pemanasan di Bumi meningkat, dan CO2 yang tersimpan dalam laut akan meningkat. Jika hal ini terus berlangsung, maka Bumi akan menjadi seperti Planet Venus, dengan suhu yang tinggi. Memang benar Bumi akan tetap ada, tapi belum tentu manusia di atasnya.
Pada zaman dahulu, manusia hanya dapat memanfaatan energi panas dari Matahari, tetapi manusia adalah spesies yang sangat pintar dibandingkan dengan spesies lainnya yang ada di Bumi. Karena kepintarannya itulah maka manusia menemukan energi lain selain matahari, seperti minyak bumi dan batu bara. Dari zaman hidup dengan hasil pertanian, mulai berubah menjadi industri. Jumlah manusia meningkat, kebutuhan dunia pun meningkat. Penggunaan plastik mulai digunakan untuk memperpanjang masa penggunaan makanan. Alam sudah berubah fungsi menjadi bahan baku, eksploitasi meluas tanpa ada pikiran jangka panjang, ketidakpedulian manusia terhadap alam memperburuk kondisi Bumi.
We would find the global civilization created by human mind. A mind that evolved to have the ability to reflect on ourselves…
Kemampuan pemikiran manusia dan teknologi yang dikembangkan memang mempunyai dampak yang besar dalam kehidupan manusia. Transportasi bukan masalah, penerangan kota-kota besar di malam hari, dan lainnya. Hal ini juga yang membuat dampak ke pemikiran manusia, bahwa semua kenyamanan bisa di dapat dengan mudah karena adanya teknologi. Akibatnya? Ketidakpedulian terhadap penggunaan sumber daya alam. Dan sekarang kita sudah melihat dan merasakan dampaknya. Walaupun begitu, masih banyak yang tidak peduli.
The greatest weapon of mass destruction is corporate economic globalization.
Ekosistem, hutan, laut, sungai, udara, saat ini tdak merupakan suatu properti bagi korporasi. Yang artinya alam bisa dijual, dibeli, dieksploitasi, diperdagangkan, atau dihancurkan. Dan hukum pun tidak berlaku untuk sistem yang dibuat oleh korporasi dunia. Berapa banyak organisasi lingkungan yang menentang penebangan hutan untuk kepentingan bisnis ? Dan berapa banyak dari aksi penentangan yang mendapatkan hasil ? Jawabannya tentu sudah menjadi rahasia umum. Ironisnya, kita adalah konsumen dari korporasi tersebut.
Bukan berarti kita kehilangan harapan, sebagian besar manusia sudah menyadari apa yang terjadi. Manusia mulai makin peduli terhadap lingkungan. Banyak perusahaan yang sudah mengkampanyekan produksi hijau. Adanya pertemuan dunia untuk membahas masalah lingkungan. Sebagai manusia kita harus menyadari bahwa apa yang kita makan, apa yang kita pakai berasal dari Bumi. Dengan adanya kesadaran itu alam akan lebih terjaga.
Film yang sangat bagus, sayang hanya membahas masalah di AS, mungkin karena AS adalah penyumbang karbon terbanyak. Mudah-mudahan ada film khusus alam di Indonesia. Sepertinya tidak lama lagi, mengingat adanya ajang Eagle Awards yang bertema Hijau Indonesiaku. Jika anda menginginkan informasi yang lengkap, silakan tonton filmnya, sangat bermanfaat untuk tambahan ilmu mengenai lingkungan.